Air Hujan Pagi

 Ketika aku terbangun dari tidurku, serasa penuh kegelisahan dihati kurasakan. Pikiran yang runyam dan harapan yang kosong. Betapa tidak karuan pikiranku karena aku menyusahkan diriku sendiri. Aku.... Ya akulah yang runyam itu. 

Seketika kembali aku berpikir, kemana semangat, motifasih, senyum indah... Ya semua hilang akibat si "runyam". Memang disetiap kehidupan bukan jalan mulus yang tersedia tetapi kerikil tajam yang harus dipijak terlebih dahulu. 

Ketika awal rumah tanggaku, aku rasa indahnya kehidupan itu, seperti pasangan yang hidup tanpa masalah. Ketika itu aku berpikir " Apa ya persoalanku? ", seolah -olah aku kekurangan persoalan dalam hidup. Ya begitulah yang kupikirkan. Awalnya suamiku mempunyai penghasilan yang memuaskan. Kategori memuaskan bukanlah standar hidup orang kalangan atas. Aku memakai memakai standar menengah kebawah. Ketika itu uang yang aku keluarkan untuk beli ini dan itu bisalah aku keluarkan. Sampai saat itu aku bisa memberi uang saku buat keluarga yang membutuhkan. Senang kurasa saat itu dan keluargakupun merasakannya. 

Ketika tahun 2012 bulan April, aku hamil anak pertamaku, betapa bahagianya aku saat it. Aku dimanja oleh suamiku, aku tidak dibiarkan minum minuman yang bersoda. Mungkin suamiku takut dengan gangguan dari kandunganku yaitu calon bayinya. Aku bahagia karena suamiku ikut menjaga kandunganku.  Setiap bulan aku pergi kedokter kandungan untuk mengecek kesehatan kandunganku. Pada saat itu seorang disekelilingku mengatakan "Mengapa harus kedokter kandungan,kan mengeluarkan uang yang banyak. Lebih bagus periksanya ke bidan terdekat." tetapi saat itu aku hanya berpikir ini tak seberapa penting ketimbang kesehatan kandunganku. 

Semakin tambah  bulan kandunganku semakin besar. Tepat tahun 2013 bulan Januari tanggal 10, lahirlah anakku yang pertama. Betapa senang dan bahagia kurasakan bersama suamiku dan keluarga besarku. Saat itu anakku lahir di RSUD Dumai, dengan berat 2,7 kg. 

Betapa bahagianya kurasakan punya putri dan suami. Seakan lengkaplah kebahagiaan itu. Semua keluarga datang menghampiriku dengan membawa ucapan selamat.Saat itu rumahku terus didatangi oleh sanak  saudaraku. Semakin bartambah lagi kebahagiaanku. Sebulan sudah usia putriku yang pertama,  berat badannya semakin bertambah juga.  Ketika itu aku sedang menyusuinya, aku menerima berita bahwa kantor tempat suamiku bekerja gulung tikar. Mendengar semua berita itu jantungku seakan berhenti berdetak. Napasku seakan tidak teratur berdesah...terbesit dalam pikiranku " Apa yang akan terjadi sebentar lagi dalam hidupku". 

Komentar